Feels Like Working with Talibans

You have to thank God, praise His name for minimum a hundred times per day, if your office allow you and the rest of employees to listen to the music while working. And you have to really thank God, praise His name for minimum a thousand times per day, if you are allowed to connect to the internet and browsing all you like in office hour.

Unlike me.

 

Comments (2)

Hamil Memang Berat

It’s hard. Ya, hamil itu berat, sodara. Mual dan muntah hampir tak tahu waktu, perasaan lemas sepanjang hari, mood berantakan, beberapa simptom mirip PMS, tapi bayangkan mengalami itu semua selama minimal tiga bulan. Gila, PMS yang cuma beberapa hari aja bikin senep. Belum lagi banyak pantangan yang entah mitos entah benar-benar fakta dan harus dihindari, seperti harus stop makan sate. SATE, SODARA, SATE! Makanan terenak di muka bumi ini! Hhmm… Iya, saya lebay, tapi dari seabrek makanan yang harus dihindari, sate adalah yang terberat. My favorite food… *nangis kejer* Memang ada alasannya sih. Daging sate itu kan masaknya cuma dibakar, rentan gak mateng. Daging yang gak mateng gitu rentan tercemar Salmonella yang sangat berbahaya buat janin. Tapi…tetep aja gak rela karena gak bisa makan sate… :p

Kalo diitung dari HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir), usia kehamilan saya sekarang 12 minggu. Usia janin yang sebenernya sih mungkin baru 10 minggu (kalo diitung dari waktu bikin dan masa ovulasi saya :p). Di balik semua ketidakenakan dan perasaan gak nyaman ini, saya sangat bersyukur dikaruniai dede bayi dalam rahim saya. Sampai sekarang pun saya masih sangat takjub dengan proses ini. Sejak masih berusia beberapa minggu, janin ini sudah mulai berkomunikasi dengan saya lewat rasa mual dan aktivitas muntah yang rutin setiap hari. Dia seperti bilang, “Mama, ada aku lho di dalam…”

Dan saya nggak sabar untuk mulai memperdengarkan padanya suara saya, suara ayahnya, suara dunia ini. Saya nggak sabar untuk menuntunnya berjalan, membimbingnya belajar membaca, dan mendengarkan semua celotehnya.

Ya, hamil memang berat, tapi itu semua sepadan =)

Comments (8)

Ini “Cuma” Kista

Beberapa hari ini, saya keputihan. Bukan karena ketebelan make bedak, tapi karena…eh, ga tau juga ding karena apa :hammer:. Akhirnya saya nyoba periksa ke dokter kandungan. Dokternya emak-emak, rada galak pulak. Abis diperiksa, saya diajak tiduran. Udah curiga aja tu, dalem hati teriak-teriak kayak di sinetron, “Ini gw mau diapain, dooookk??? Gw normal lho, dok, masih demen laki-laki!”. Eh taunya dokternya cuman buka perut saya, ngolesin semacam gel gitu, trus dia nempelin alat ke perut. Di monitor keliatan tu daleman perut saya. Saya parno dong. Ini kenapa? Ada apa? Saya siapa? Saya di mana? *lah, jadi amnesia*.

Setelah beberapa saat nempel-nempelin alat ke perut saya, si dokternya bilang, “Ini ada kista…”

Ngookk… Si dokter ngemeng begitu enteng amat kayak bilang, “Upil kamu keliatan tu”.

Trus saya digiring ke meja konsultasi. Dokternya nunjukin hasil USG, “Ini ada kista di ovarium sebelah kanan. Ukurannya 3,3 cm.”

Saya cengok. Dalam hati mengumpat karena saat itu periksa nggak bareng suami (si mamas lagi training meditasi di luar kota, HP-nya disita).

Dokternya sih bilang, karena kistanya di ovarium, masih perlu observasi. Kalau ukurannya sampe 5 cm, harus operasi. Jadi, sementara ini, diliat dulu, ini si kista bakal gede, ngecil, apa ntar ilang sendiri. Nah, terus, yang saya khawatirkan itu adalah masalah kehamilan. Etapi kata dokternya ga masalah tu. “Hamil mah hamil aja”, katanya (gile ye, dokternya ngemengnya enteng banget, kagak tau kite hampir pingsan apah??? -___-). Trus kata si dokter lagi, biasanya kista itu ada yg masalah hormon, jadi ntar bisa kempes sendiri. Trus, ada juga yg ntar kl hamil, pas melahirkan si kistanya malah ikut keluar. Jadi ga bahaya. Manajer saya dulu juga pernah ada masalah kista gitu, tapi letaknya di saluran indung telur. Jadi meskipun kecil, harus diangkat karena dia menyumbat.

Yah… Meskipun gitu, saya sempet syok kemaren. Karena ga ada yg nemenin juga pas periksanya sih. Jadi nih ya, ntar kalo pada mau periksa ke dokter, saya saranin, ngajak temen deh. Ya kita sih pengennya baek-baek aja, tapi kalo ternyata ada kabar buruk, jadi ga cengok-cengok amat dan ada shoulder to cry on. Kemaren, saya kan nggak enak yak kalo tiba-tiba nubruk satpam trus nangis begitu aja :lol: .

Humm… yah, wish me luck aja, ya. Wish for my health juga kalo bisa :D .

Comments (17)

Menikah Itu…

You know, menjalani kehidupan pernikahan itu menyenangkan (di belakang ada yg teriak: “yea right, penganten baru sih lo! Coba beberapa tahun lagi, baru deh kerasa beratnya!”). Hehe… yah, terserah lah ya. Saya sih mikir yang sekarang dulu lah. Beberapa tahun lagi mah biar saya di masa depan yang mikir gimana ngadepinnya :mrgreen:

Gimana saya nggak ngerasa seneng, pemirsah, si suami ituh adorable bangeut *bacanya pake gaya ABG yg mulutnya monyong2 gitu yah :lol: *. Saya kan emang cengeng yah, trus cranky-an pulak, trus si mas-nya ini paling ‘cuma’ peluk dan cium saya sampe tangis saya reda dan emosi saya normal kembali :D

Trus, saya kan malesan yak (ini gw kok malah kayak buka aib sendiri yak… -_-”), nah si mas-nya ini tu hobi beberes, nyapu, sama ngepeeell :lol: . Itu adalah anugerah yang teramat besar, saudara-saudaraaa :lol:

Hehe… seneng.

Memang sih, kadang masih sering terbersit pikiran “Am I good enough for him?”, tapi saya PD aja sih. I love him and he knows it =).

Comments (13)

Biblia

Hehe… Hehe (lagi). Jadi, selama kurang lebih dua tahun saya nguli jadi copy editor, inilah yang sudah saya bantu kerjakan. Nah, buat kamu (iya, kamu!), kamu, kamu juga *sambil tunjuk-tunjuk* boleh lho kalo mau beli buku-buku ini buat dikoleksi atau buat dibagiin ke tetangga dan sodara-sodara. Kalo lewat saya, dapet diskon 20% lho :mrgreen:

 

Comments (5)

Kita

Sejak hari ini, hidupmu tak akan pernah sama lagi, Mas. Pun hidupku. Kita akan merancang dan menjalaninya bersama-sama. Kita akan saling mengganggu, tertawa, menangis, dan tertawa lagi. Kita akan membangun sarang yang nyaman, tempat hati kita pulang di ujung hari. Tiap malam, kita akan bercerita sambil berangkulan. Lalu, tiap pagi terbangun penuh syukur karena tahu kita saling memiliki. Pada Sabtu dan Minggu pagi yang lamban, kita hanya akan duduk di halaman, menyesap isi cangkir perlahan. Terkadang, kita hanya akan berbaring di ranjang. Sengaja lupa menarik tirai dan membiarkan sinar matahari memenuhi kamar sementara kita berguling berpelukan.

Ah, aku tak sabar :p.

Comments (18)

A [Late] Birthday Post

Dem. Karena terlalu sibuk bernapas, saya gak sempet posting akhir tahun kemarin. Padahal, hitungan usia saya sudah bertambah lagi. Orang-orang sudah datang dan pergi lagi. Kehilangan menyerang lagi. Entah berapa liter air mata saya buang tahun ini. Entah berapa juta kali saya memalsukan ekspresi.

Mungkin, saya lah yang patut disalahkan atas segala hal yang terjadi dalam hidup saya. Mungkin, selama ini, saya lah masalah itu. Mungkin, saya lah mendung yang kehadirannya selalu mengundang hujan. Mungkin, saya punya kemampuan menyerap kebahagiaan dan meninggalkan orang mati lemas diliputi kesedihan, ketakutan, kenangan paling buruk, dan keadaan tanpa harapan.

Dan saya paham sekali kalau banyak yang tak tahan dan memilih pergi.

Ah, whatever. By the way, happy birthday, dear me. Try to stay alive, would you?

Comments (19)

Jangan Menyerah Dulu =)

Permasalahan tiap hari, pekerjaan, kebijakan pemerintah, ketergantungan, depresi, uang, membuat kita merasa tidak punya kendali atas hidup. Namun, kita selalu bisa membangun ‘pemberontakan’ kecil. Kita mengatur ringtone handphone, mengecat rumah, mengoleksi benda-benda kecil. Kita memilih.

Sekecil apa pun pilihan yang kita pilih dapat membuat kita merasa [semacam] berdaya. Karena itulah, kita mesti tetap melawan keadaan meski akhirnya harus gagal. Setidaknya, kita kalah dengan kepala tegak. Lagi pula, kegagalan kadang adalah satu-satunya cara mendapatkan keinginan kita. Selain itu, tidak ada yang benar-benar mutlak kecuali kematian. Tidak pula takdir.

Kita mungkin tidak terlalu pintar, tapi kita jauh lebih pintar daripada anjing dan tikus. Jadi, jangan menyerah dulu… =)

 

[diterjemahkan secara bebas dari: sini. thanks to om Eru for the link.]

Comments (11)

selalu ada sesuatu.. (via kamar depan)

Salah satu racauan Niko yang saya suka… =)

bermula dari sebuah ruang, suatu senja di minggu sore, setelah hampa menemukan artinya. saat ruang kosong itu yang tak lagi sunyi. penuh suara, suara-suara yang tak terdengar. tertumpuk kata, tanpa tanda baca. bertumpuk makna, tak pernah diketahui. sendiri menggambar sepi di dinding kamar, besar. tak berwarna dengan goresan tak beraturan, melingkar. saat kau menemukanku, mungkin kau tak akan pernah tahu itu siapa. aku yang mana? dan sebuah tanya … Read More

via kamar depan

Comments (3)

Buaya

Teman-teman, sanak famili, dan sepupu-sepupu saya biasa memanggil beliau dengan julukan: BUAYA. Bukan, bukan karena Ayah saya itu playboy atau buaya darat. Tapi, karena dulu waktu mudanya, Ayah saya hobi nangkepin buaya. Nah, pada suatu ketika, Ayah saya mengintai seekor buaya mungil (disingkat bumil, ya :D ) yang sedang berenang-renang manis di sungai. Beliau mulai mengambil ancang-ancang untuk menangkap si bumil. Temannya sudah menunggu di pinggir sungai dengan tali buat mengikat moncong si bumil. Hap! Tertangkaplah si bumil. Ayah saya jumawa. Ia dan temannya bersiap mengikt moncong si bumil.

Lagi ngobrol penuh suka cita gitu, tiba-tiba datanglah sang Induk bumil dari sungai. Pelan…pelan…matanya penuh amarah dan dendam. Ayah saya dan temannya buru-buru naik ke darat sambil membawa si bumil.  Kemudian, terjadilah pertarungan itu. Ayah saya bergulat dengan sang induk buaya! Ekor sang induk melecut punggung Ayah saya. Untunglah teman Ayah saya itu setia kawan. Dia nggak langsung kabur begitu aja waktu Ayah saya bergulat dengan sang induk buaya. Dengan (di) berani (berani kan), sang teman meraih batu dan membidik mata buaya besar itu. Syukurlah, kena! Sang induk puna meraung kesakitan, ada celah buat Ayah saya untuk kabur. Dan beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka berdua lari, lari, dan terus lari sampai di perkampungan penduduk. Ayah saya selamat dan ia tak kapok. Beliau masih berburu buaya, tapi jadi lebih hati-hati dalam perburuannya. Read the rest of this entry »

Comments (12)

Protected: Tanpa Ekspektasi

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Enter your password to view comments.

Want You So Terribly

I want to live inside your delicate bones, melt into you like a second skin.

I want to love you so terribly…

 

[nemu di tumblr orang. it got me :mrgreen: ]

Comments (13)

Jangan Bersedih? Prett.

“Janganlah kau bersedih, cause everything’s gonnabe ok.”

Yeah, right. Kau bisa bilang begitu karena bukan kau yang mengalaminya.

Saya nggak habis pikir sama orang2 yang gemar bilang, “jangan sedih”. Maksudnya apa? Kenapa nggak boleh sedih? Kau mau kami melupakan kesedihan? Mau jadi apa? Malaikat? Hidup ini sudah terlampau rumit dan kau masih melarang kami untuk bersedih? Coba mikir dulu, sih. Sedih itu manusiawi, kan? Sama kayak kencing, kentut, dan bernapas. Tai kucing itu kalo ada yang bilang dia nggak pernah sedih. Siapa yang berusaha kau tipu, kisanak? Nggak usah sok-sokan koar-koar “jangan sedih” lah. Toh justru karena kesedihan dan kemampuan untuk bersedihlah kita diingatkan bahwa kita masih manusia.

 

[kenape? gak setuju? bodo amat! *eh, gw nyebelin ya? :lol: *]

Comments (25)

BISING

Kenapa sih orang selalu ngomong? Kenapa sih gak bisa diem sebentar aja? Gak bisa tah istirahat ngomong sebentar? Kenapa sih gak bisa duduk diem aja, nikmatin keheningan, nikmatin keberadaan satu sama lain, gak usah pake ngobrol. Susah ya? Rasanya janggal ya kalo diem-dieman aja? Takut disangka lagi musuhan ya?

Bising, tau ga…

Comments (15)

Jijik

Gue jijik sama obrolannya beberapa cowok yang melulu tentang hubungan seks atau yang nyerempet2.

[iye, gue cuma mosting itu doang. kenapa? gak suka? bodo amat. >:P]

Comments (10)

Older Posts »
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers