Biblia

Hehe… Hehe (lagi). Jadi, selama kurang lebih dua tahun saya nguli jadi copy editor, inilah yang sudah saya bantu kerjakan. Nah, buat kamu (iya, kamu!), kamu, kamu juga *sambil tunjuk-tunjuk* boleh lho kalo mau beli buku-buku ini buat dikoleksi atau buat dibagiin ke tetangga dan sodara-sodara. Kalo lewat saya, dapet diskon 20% lho :mrgreen:

 

Advertisements

Kita

Sejak hari ini, hidupmu tak akan pernah sama lagi, Mas. Pun hidupku. Kita akan merancang dan menjalaninya bersama-sama. Kita akan saling mengganggu, tertawa, menangis, dan tertawa lagi. Kita akan membangun sarang yang nyaman, tempat hati kita pulang di ujung hari. Tiap malam, kita akan bercerita sambil berangkulan. Lalu, tiap pagi terbangun penuh syukur karena tahu kita saling memiliki. Pada Sabtu dan Minggu pagi yang lamban, kita hanya akan duduk di halaman, menyesap isi cangkir perlahan. Terkadang, kita hanya akan berbaring di ranjang. Sengaja lupa menarik tirai dan membiarkan sinar matahari memenuhi kamar sementara kita berguling berpelukan.

Ah, aku tak sabar :p.

A [Late] Birthday Post

Dem. Karena terlalu sibuk bernapas, saya gak sempet posting akhir tahun kemarin. Padahal, hitungan usia saya sudah bertambah lagi. Orang-orang sudah datang dan pergi lagi. Kehilangan menyerang lagi. Entah berapa liter air mata saya buang tahun ini. Entah berapa juta kali saya memalsukan ekspresi.

Mungkin, saya lah yang patut disalahkan atas segala hal yang terjadi dalam hidup saya. Mungkin, selama ini, saya lah masalah itu. Mungkin, saya lah mendung yang kehadirannya selalu mengundang hujan. Mungkin, saya punya kemampuan menyerap kebahagiaan dan meninggalkan orang mati lemas diliputi kesedihan, ketakutan, kenangan paling buruk, dan keadaan tanpa harapan.

Dan saya paham sekali kalau banyak yang tak tahan dan memilih pergi.

Ah, whatever. By the way, happy birthday, dear me. Try to stay alive, would you?

Jangan Menyerah Dulu =)

Permasalahan tiap hari, pekerjaan, kebijakan pemerintah, ketergantungan, depresi, uang, membuat kita merasa tidak punya kendali atas hidup. Namun, kita selalu bisa membangun ‘pemberontakan’ kecil. Kita mengatur ringtone handphone, mengecat rumah, mengoleksi benda-benda kecil. Kita memilih.

Sekecil apa pun pilihan yang kita pilih dapat membuat kita merasa [semacam] berdaya. Karena itulah, kita mesti tetap melawan keadaan meski akhirnya harus gagal. Setidaknya, kita kalah dengan kepala tegak. Lagi pula, kegagalan kadang adalah satu-satunya cara mendapatkan keinginan kita. Selain itu, tidak ada yang benar-benar mutlak kecuali kematian. Tidak pula takdir.

Kita mungkin tidak terlalu pintar, tapi kita jauh lebih pintar daripada anjing dan tikus. Jadi, jangan menyerah dulu… =)

 

[diterjemahkan secara bebas dari: sini. thanks to om Eru for the link.]

selalu ada sesuatu.. (via kamar depan)

Salah satu racauan Niko yang saya suka… =)

bermula dari sebuah ruang, suatu senja di minggu sore, setelah hampa menemukan artinya. saat ruang kosong itu yang tak lagi sunyi. penuh suara, suara-suara yang tak terdengar. tertumpuk kata, tanpa tanda baca. bertumpuk makna, tak pernah diketahui. sendiri menggambar sepi di dinding kamar, besar. tak berwarna dengan goresan tak beraturan, melingkar. saat kau menemukanku, mungkin kau tak akan pernah tahu itu siapa. aku yang mana? dan sebuah tanya … Read More

via kamar depan

Buaya

Teman-teman, sanak famili, dan sepupu-sepupu saya biasa memanggil beliau dengan julukan: BUAYA. Bukan, bukan karena Ayah saya itu playboy atau buaya darat. Tapi, karena dulu waktu mudanya, Ayah saya hobi nangkepin buaya. Nah, pada suatu ketika, Ayah saya mengintai seekor buaya mungil (disingkat bumil, ya :D) yang sedang berenang-renang manis di sungai. Beliau mulai mengambil ancang-ancang untuk menangkap si bumil. Temannya sudah menunggu di pinggir sungai dengan tali buat mengikat moncong si bumil. Hap! Tertangkaplah si bumil. Ayah saya jumawa. Ia dan temannya bersiap mengikt moncong si bumil.

Lagi ngobrol penuh suka cita gitu, tiba-tiba datanglah sang Induk bumil dari sungai. Pelan…pelan…matanya penuh amarah dan dendam. Ayah saya dan temannya buru-buru naik ke darat sambil membawa si bumil.  Kemudian, terjadilah pertarungan itu. Ayah saya bergulat dengan sang induk buaya! Ekor sang induk melecut punggung Ayah saya. Untunglah teman Ayah saya itu setia kawan. Dia nggak langsung kabur begitu aja waktu Ayah saya bergulat dengan sang induk buaya. Dengan (di) berani (berani kan), sang teman meraih batu dan membidik mata buaya besar itu. Syukurlah, kena! Sang induk puna meraung kesakitan, ada celah buat Ayah saya untuk kabur. Dan beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka berdua lari, lari, dan terus lari sampai di perkampungan penduduk. Ayah saya selamat dan ia tak kapok. Beliau masih berburu buaya, tapi jadi lebih hati-hati dalam perburuannya. Continue reading