Buaya

Teman-teman, sanak famili, dan sepupu-sepupu saya biasa memanggil beliau dengan julukan: BUAYA. Bukan, bukan karena Ayah saya itu playboy atau buaya darat. Tapi, karena dulu waktu mudanya, Ayah saya hobi nangkepin buaya. Nah, pada suatu ketika, Ayah saya mengintai seekor buaya mungil (disingkat bumil, ya :D) yang sedang berenang-renang manis di sungai. Beliau mulai mengambil ancang-ancang untuk menangkap si bumil. Temannya sudah menunggu di pinggir sungai dengan tali buat mengikat moncong si bumil. Hap! Tertangkaplah si bumil. Ayah saya jumawa. Ia dan temannya bersiap mengikt moncong si bumil.

Lagi ngobrol penuh suka cita gitu, tiba-tiba datanglah sang Induk bumil dari sungai. Pelan…pelan…matanya penuh amarah dan dendam. Ayah saya dan temannya buru-buru naik ke darat sambil membawa si bumil.  Kemudian, terjadilah pertarungan itu. Ayah saya bergulat dengan sang induk buaya! Ekor sang induk melecut punggung Ayah saya. Untunglah teman Ayah saya itu setia kawan. Dia nggak langsung kabur begitu aja waktu Ayah saya bergulat dengan sang induk buaya. Dengan (di) berani (berani kan), sang teman meraih batu dan membidik mata buaya besar itu. Syukurlah, kena! Sang induk puna meraung kesakitan, ada celah buat Ayah saya untuk kabur. Dan beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka berdua lari, lari, dan terus lari sampai di perkampungan penduduk. Ayah saya selamat dan ia tak kapok. Beliau masih berburu buaya, tapi jadi lebih hati-hati dalam perburuannya.

Well, kisah itulah yang kerap diceritakan Ayah saya sejak saya kecil. Beberapa hari lalu, pada hari ketiga wafatnya, barulah saya tahu kisah sebenarnya dari mulut bibi saya, adiknya. Dan cerita aslinya tidak seheroik kisah perang dengan buaya itu, ternyata. Tapi, ayah saya memang pendongeng ulung. Ketika saya kecil dulu banyak kisah yang ia ceritakan. Mulai dari kisah hantu bermuka rata yang kerap mendatangi kakek saya, dongeng Batu Belah Batu Betangkup tentang seorang ibu yang lelah akan kenakalan anaknya dan memilih “dilahap” oleh Batu Belah, dan banyak cerita lain.

Dan saya kangen. Sangat.

12 thoughts on “Buaya

  1. ♫ kenang yang indah, kenang yang memiliki kesan di hati…hanya yang baik, hanya yang membuat kita tersenyum, saat kita mengingatnya…. ♫

    *numpang nyanyi lagune ipank Yo:mrgreen:
    *lama bgt ga liat mrgreen mrenges😆

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s