Flek, Kontraksi, dan Lain-lain

To be honest, being pregnant is confusing. Apalagi buat first timer seperti saya. Hehe, bingung tauk, waktu ngerasain perut kenceng tiba-tiba. Atau pas abis pipis, nemuin setitik darah di tisu yang dipake buat mengeringkan vagina. Waktu itu, saya nggak tau itu kenapa. Dua minggu yang lalu, pas kontrol dan cerita ke dokter, dokter bilang itu flek. Saya lantas ber “ooo…” panjang. Dulu, saya kira flek itu bentuknya kayak bercak darah yang ada di celana dalam waktu kamu menstruasi hari pertama. Ternyata, setitik darah pun bisa dibilang flek. Trus, tentang perut yang rasanya kenceng-kenceng, itu namanya kontraksi. Saya ngerasa bego banget waktu itu. Sudah hampir bulan kedelapan, tapi saya baru tau kalo yg disebut flek dan kontraksi itu yang begitu.

Padahal, kata bu dokter, kalo ngerasain kontraksi atau ngalamin flek gitu, kita harus cepet istirahat. Ambil posisi berbaring miring ke kiri. Katanya sih posisi tidur miring kiri itu paling bagus buat ibu hamil karena suplai oksigen buat janin lancar. Trus, kalo sampe pendarahan atau keluar cairan ketuban dari vagina, harus buru-buru ke rumah sakit biar bisa ditangani. Apalagi kalo janinnya belum cukup bulan untuk lahir. Owalah… Ngono tho… :mrgreen:

Sekarang, dede bayi udah masuk 33 minggu. Perkiraan lahir tanggal 27 Juni. Wish us safe and well ya…

Kehamilan ini memang terasa berat buat saya, tapi saya ngerasa si jabang bayi ini bakal jadi orang yang sabar dan pengertian. Waktu trimester awal, saya sempet nginep di rumah sakit, nemenin si Mamas yang waktu itu kena infeksi ginjal. Waktu saya ribet bolak-balik rumah sakit itu, si dede bayi tenang banget. Yang biasanya saya mual muntah lemes gak karuan, itu kerasa kuat aja. Eh, pas si Mamas udah pulang ke rumah, saya mual muntah lagi dong :D.

Trus, awal trimester ketiga kemarin, si Mamas masuk rumah sakit lagi. Tapi kali ini saya nggak dibolehin nginep nemenin dia. Soalnya terakhir saya nemenin dia di RS waktu itu, saya kena flu hebat :D. Jadi, pagi-pagi saya berangkat ke RS trus malemnya pulang, tidur di rumah. Dan selama itu, dede bayinya juga tenang. Dia kayak ngerti sama keadaan ayah dan mamanya. Good boy…

Hehehe… Sebenernya, nggak sabar banget pengen liat dede bayinya. Yah, meskipun asli saya masih bingung ntar gimana caranya nyusuin, gantiin popok, gendong dia, nenangin dia kalo dia nangis, dan membimbing dia belajar segala hal, tapi dijalanin aja ya. Ntar juga terbiasa dan mahir sendiri 😀

Advertisements

Menikah Itu…

You know, menjalani kehidupan pernikahan itu menyenangkan (di belakang ada yg teriak: “yea right, penganten baru sih lo! Coba beberapa tahun lagi, baru deh kerasa beratnya!”). Hehe… yah, terserah lah ya. Saya sih mikir yang sekarang dulu lah. Beberapa tahun lagi mah biar saya di masa depan yang mikir gimana ngadepinnya :mrgreen:

Gimana saya nggak ngerasa seneng, pemirsah, si suami ituh adorable bangeut *bacanya pake gaya ABG yg mulutnya monyong2 gitu yah 😆 *. Saya kan emang cengeng yah, trus cranky-an pulak, trus si mas-nya ini paling ‘cuma’ peluk dan cium saya sampe tangis saya reda dan emosi saya normal kembali 😀

Trus, saya kan malesan yak (ini gw kok malah kayak buka aib sendiri yak… -_-“), nah si mas-nya ini tu hobi beberes, nyapu, sama ngepeeell :lol:. Itu adalah anugerah yang teramat besar, saudara-saudaraaa 😆

Hehe… seneng.

Memang sih, kadang masih sering terbersit pikiran “Am I good enough for him?”, tapi saya PD aja sih. I love him and he knows it =).

“Untuk Mencintai Seseorang, Butuh Keberanian”

Saya baru selesai baca buku barunya Raditya Dika, Marmut Merah Jambu. Tidak seperti buku-buku sebelumnya yang amat sangat konyol mampus, buku ini agak “berat”. Raditya banyak bercerita tentang cinta. Humornya pun lebih halus. Kata-katanya banyak yang ingin saya kutip =)

“Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya kita butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.”

Baca ini, saya miris. Siapa sih yang tidak pernah jatuh cinta diam-diam? Diam-diam memupuk harap, orang itu akan [minimal] menyapa kita. Diam-diam mendoakannya dari kejauhan. Diam-diam memerhatikan objek kecintaan kita dari jauh sampai kadang mungkin hanya dengan melihat sandalnya saja kita sudah sangat bahagia.

Lalu Raditya bercerita tentang belalang sembah. Setiap belalang sembah selesai kawin, belalang betina akan memakan kepala yang jantan. Yang jadi pertanyaan, kenapa masih ada belalang yang mau kawin? Raditya bilang, semua belalang jantan sudah tahu mereka akan mati setelah kawin, tapi mereka tetap mau kawin. Belalang jantan berani mati demi cinta. Hal sama berlaku pada hampir setiap manusia. Dalam hubungan antar lelaki dan perempuan juga terdapat bermacam risiko. Mulai dari salah paham, ngambek, marah, diselingkuhi, patah hati, sampai mungkin bunuh diri. Tapi, seperti belalang, kita tentu “tahu bahwa untuk mencintai seseorang, butuh keberanian.”

Maka jika kamu tidak cukup berani untuk mencintai dan membiarkan orang itu tahu kamu mencintainya, jangan jatuh cinta. Dan nikmatilah hidup ini sendiri saja =).

That Thing

Orang kalo lagi jatuh cinta, polanya sama ga ya? Maksudnya, kalo saya lagi dalam kondisi itu, yang keliatan di mata saya tu cuma orang itu. Mukanya doang yang ada. Yang laen terlihat mirip dia, atau lebih jelek dari dia, atau cuma gabungan bibir, idung, dan mata di muka tanpa terlihat jelas raut wajahnya. Err… parah ya?

Trus, sama ngga sih, maksudnya, kalo saya lagi dalam kondisi itu, segala hal mengingatkan saya tentang dia. Saya juga jadi sukaaa banget ngulang-ngulang namanya, menyebutkan satu atau dua suku kata namanya meski cuma dalam hati aja. Trus apa yang ada di dirinya itu keliatan mengkilap, keren, nggak bercela, meskipun misal, kenyataannya postur tubuhnya kayak junkie dan rambutnya jigrak-jigrak kayak abis kesetrum…

Kenapa saya nulis tentang jatuh cinta? Sebenernya nggak kenapa-kenapa juga sih. Cuma lagi pengen ngerasain jatuh-bangun, pontang-panting, panas-dinginnya waktu lagi dalam kondisi itu aja. Pengen ngerasain sakitnya nahan kangen dan nikmatnya waktu akhirnya bisa liat muka objek afeksi kita atau ngerasa amat sangat bersyukur walau cuma bisa dengerin suaranya aja.

Sepupu saya pernah datang dengan teori ini. Katanya, apa mungkin, karena sering nolak orang, kita ini dikutuk? Waktu ada yang suka sama kita, kita muntah-muntah gak suka. Tapi waktu kita suka sama orang, orang itu yang muntah-muntah liat kita. Saya ngga mau percaya sih (meski sempet kepikiran juga =p), saya pikir mungkin karena kita memang orang-orang yang harus berjuang keras kalo perlu sampe eek darah demi mendapatkan apa yang kita inginkan. Atau bisa juga karena standar kita aja yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Well, intinya sih yang beginian ini harus ada aksi resiprokal, timbal balik yang melibatkan dua belah pihak yang berkepentingan. Nggak bisa cuma satu orang aja yang tergila-gila sementara yang lainnya lebih memilih ngutek-ngutek tai ayam ketimbang mencoba menjalani hal itu bersama. Continue reading

Maafkan Ketidakegoisan-ku…

Maafkan atas ketidakegoisan-ku, maafkan jika aku tak terlalu ingin memilikimu… Karena aku tak tahu bagaimana cara memilikimu jika memandang punggungmu saja aku sudah bersyukur… Itu sudah terlalu indah bagiku… Aku ingin tegas tapi tak sanggup menampung rasa senangku jika itu benar terjadi…

Ituh… status teman saya di fesbuk beberapa hari lalu… Semacam pernyataan cinta yang tidak terungkap, rindu yang tak tahu harus dikatakan atau tidak, bercampur sedikit rasa tak berdaya. Continue reading

Wajah Cinta

Apakah cinta itu?

Pertanyaan itu sejak bertahun bahkan berabad lalu telah mengemuka. Jawabannyapun bisa sangat subyektif. Seorang yang sedang jatuh cinta akan bilang cinta itu indah, tapi seorang yang mempunyai pengalaman tidak menyenangkan dengan cinta akan mengatakan kalau cinta itu penuh dengan penderitaan.

Secara naluriah, setiap manusia adalah makhluk yang tidak betah kesepian. Oleh karena itu, setiap individu akan berusaha membina dan menjalin hubungan dengan orang lain, baik hubungan dalam bentuk persahabatan maupun cinta. Namun terkadang dalam menjalin hubungan tidak jarang terhalang oleh berbagai permasalahan. Semakin dekat dan tahu seseorang terhadap pasangannya dimungkinkan dapat memicu pertikaian. Dan bisa jadi sebaliknya, semakin seseorang tahu sisi positif dan negatif pasangannya, maka akan semakin dewasa hubungan tersebut, tentu jika hubungan didasari dengan kepercayaan. Continue reading

Better Than Love

Saya punya penyakit gila (jiaaahhh… bukan berita baru kali Yo!). Ini serius. Saya tidak sedang bercanda (eh, itu yang masih cengar-cengir, berhenti idup dulu! *lho?* ). Beneran, penyakit gila yang menempati urutan nomer 33 dalam daftar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders *dikemplanginpsikiaterdanpsikologseluruhdunia* ini adalah: saya gampang sekali jatuh sayang pada orangorang ‘asing’ dari dunia maya… Continue reading