Menjadi Joker

joker

Mari kita berjanji untuk tidak meninggalkan planet ini sebelum kita temukan siapakah diri kita dan dari mana kita berasal…**


Berapa banyak manusia yang mempertanyakan siapa gerangan dirinya, dari mana ia berasal dan hendak ke mana? Pertanyaan “kamu siapa?” mungkin bisa dijawab dengan menunjukkan Kartu Tanda Penduduk atau Kartu Mahasiswa, atau Kartu Pelajar. Tapi jika saja kita sadar, identitas yang tertulis di kartu tanda pengenal itu tidak cukup untuk menjawab pertanyaanpertanyaan dasar—yang (menurut Jostein Gaarder dalam buku ‘Misteri Soliter’-nya) jarang ditanyakan oleh kebanyakan manusia.


Lewat Misteri Soliter, Gaarder mengajak kita untuk kembali mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah terpendam dalam alam bawah sadar kita. Di buku ini, Gaarder juga menyinggung tentang bagaimana manusia kadang ‘lupa’ bertanya dan menganggap segala hal yang terjadi sebagai hal yang biasa saja sehinggakita pun sering kehilangan makna. Dan kalau orang sudah kehilangan makna, hidup ini seperti hampa, bahkan mungkin terasa tidak lagi layak dijalani. Pernah merasa seperti itu?


Ya ya, saya tau. Postingan saya kali ini jauh lebih tidak jelas daripada postingan2 sebelumnya. Sebenarnya saya cuma mau mengingatkan diri saya sendiri supaya tidak kehilangan keinginan untuk mempertanyakan segala hal yang ingin saya ketahui. Saya… ingin terus punya jiwa kanak-kanak yang selalu ingin tahu dan mencari tahu apa dan kenapa. Saya semacam ingin jadi Joker yang ‘berbeda’ dari kartu2 lainnya. Dalam ‘Misteri Soliter’, Gaarder menggambarkan Joker sebagai sosok yang menolak menjadi orang ‘kebanyakan’,  berkeliling kota dan bertanya ini itu, dan membuat berang banyak orang yang tak mau hidup mapannya terganggu.


Skeptis itu perlu, sekali-sekali. Skeptis dalam artian tidak mudah percaya pada halhal (logis) yang belum kita ketahui betul kebenarannya. Terus bertanya (pada apapun dan siapapun) dan mencari tahu sampai kita mendapatkan bukti dan jawaban (walaupun tindakan mencium kotoran telinga yang sudah jelasjelas bau, sama sekali tidak saya sarankan).


Ah, tapi susah menjadi Joker yang tak peduli pada apapun. Saya ini cuma pengamen lusuh yang tiap harinya mengais receh dan tunduk patuh pada sebuah tangan tak terlihat yang terus-terusan menggetok kepala dan mengharuskan setiap orang pergi bekerja pagipagi, mengeluh dan mengumpat di tempat kerja, dan pulang kelelahan setiap malamnya. Saya masih tetap saja harus (me) rela (kan) diri tergerus rutinitas sehingga seringkali menutup mata pada halhal indah yang luput dari perhatian saya tiap harinya.

Ah, maaf ya. Saya mulai ngoceh nggak jelas lagi dan mencari pemakluman (lagi)…

.

.

..

**katanya Jostein Gaarder dalam ‘Misteri Soliter’.

Inih… saya ambil dari blog lama saya di belantara friendster yang sudah tak terurus lagi dan saya tambahtambahi sampai jadi lebih tidak jelas lagi. Saya lagi ngga tau mau nulis apa…

76 thoughts on “Menjadi Joker

  1. who am I..?

    aku Bundo.. ah, 10 tahun yang lalu bukan bundo
    aku istri KD.. ah, 11 tahun yang masih singel..
    aku anak ibu ku.. ah, 35 tahun yang lalu bukan..

    aku adalah hambaNYA.. itupun bila Tuhanku mengakui aku sebagai hambaNYA
    malang nian nasibku.. ku bukan siapa-siapa..

    • uh… iya ya bundo.. kita bukan siapa2…
      mengaku manusia tapi kadang lebih kejam daripada hewan paling buas…
      mengaku manusia tapi sering tak tahu pada apa sebab kita disebut manusia…

      persis seperti saya…

  2. ‘Saya masih tetap saja harus (me) rela (kan) diri tergerus rutinitas sehingga seringkali menutup mata pada halhal indah yang luput dari perhatian saya tiap harinya.’

    hmmm ini uni kutip dari tulisan sahabat di atas, menurut uni setiap pribadi punya kesempatan qo untuk memilih jalan mana yg akan dilalui, jd bila sahabat ingiin suasana kerja ya baru, ya tinggal disiasati aja, biar kita hidup bisa lebih bahagia. zemangat berubah sahabat ^_^

    • ya uni…
      uni benar belaka…
      tapi ini bukan sekedar masalah pekerjaan yang ingin baru atau apa…
      saya kira tentang menjadi joker ini lebih besar dari hidup itu sendiri…

      *dansayataktahupastiapayangsayabicarakandisini*

    • err… maksud saya, bukan sekedar ‘berbeda’…
      tapi mungkin lebih ke bagaimana kita bisa terus mempertahankan rasa ingin tahu kita… gitu ga ya maksud tulisan gw? *nggliyengdewe*

  3. hmmm, kmrn waktu sempat main ke blognya dewi lestari, dia jg ngajak kita jadi sperti joker yang elo maksud, tp sikap kayak gitu jg diaplikasikan ke agama. jadi kita jg musti mempertanyakan agama dan ajarannya untuk mengenal Tuhan itu esensinya pegimana.

    hooo…berat. tp bukan brarti gue ga setuju *sama elo maupun dewi lestari

    • hoo… iya berat, can…
      tapi di bagian mempertanyakan agama dan esensinya itu nurut gw mungkin lebih ke kita ngga boleh maen percaya2 aja. ada yg bilang ‘HARAM’ misalnya, kita kudu teliti en cek dulu dalilnya gimana. ga mentang2 yg ngomong guru kita atau orang yg lebih tua, trus kita maen percaya aja…

      gitu kali ya?

  4. jostein? bacaan eek. kebiasaan kalo baca berat2 mesti harus pas eek biar nempel.
    tapi tetep aja ga nempel :-<
    makasi ya nyong!

  5. jostein gaarder suka aneh-aneh aja nih…

    tempat kita berasal, tujuan kita dalam hidup, dan kemana kita akan kembali, ini kalo bahasa jawanya “sangkan paraning dumadi”….ada filosofinya tuh!

    apaan filosofinya? nggak tau…!:mrgreen:

  6. Setiap kita sebenarnya sudah ber’janji’ akan beberapa hal terhadap Pencipta kita, ya, khan, mbak…

    Maka hidup kita selayaknya ditujukan untuk meraih RidHo-Nya…

    Berbicara tentang tujuan hidup terkadang penuh liku…karena seperti saat kita menarik garis lurus terkadang tanpa sadar garis itu justru melenceng….

    btw
    mbak Yo..Putri ada Award..mohon diterima, ya…[jangan lupa berkunjung ke blog Put.. :D]

  7. saya juga kadang mesti mikir, bingung sendiri sama “siapa saya”.
    ada gak ya tokoh khayalan yang beda dengan yang lain, yang peduli dengan orang lain, yang bisa memaknai hidup dan menikmatinya, dan juga tau siapa dirinya..

    ada gak ya yo?
    *kaloadasayapengenkayadia!😀

    • ada, pan…
      sebentar saya inget dulu… ada kok…
      errgh… aduh itu loh…si ituh…

      ntar deh kalo uda inget saya kasi tau…😆
      *ditimpukinirpan*

  8. joker,,,joker,,,
    saya paling seneng dpt joker kalolagi maen 41, tp kadang2 joker ga diikutsertakan dalam permnainan ini, kan kasian jd terpisah sama temen2 yg lainnya..

    *komen ga jelas…. *

    • itu… pilihan hidupnya, deee…
      dia bisa dengan tenang masuk ke mana saja…
      dan dia juga bisa dengan tenang tanpa sakit hati terpisah dengan yang lain…

      *tambahgakjelasya?*

  9. hmm… *mikir*

    semoga qt bs mjd hamba-Nya yg senantiasa berupaya tuk raih ridho-Nya..😀 . amin..

    *gak nyambung ya, bingung maw komen apa lagi..*

  10. nuhun mbak yo…

    caranya biar ada spasinya pripun toh?
    an kok ga bisa jadi pake titik kayak gini
    .
    .
    .
    gitu mbak klo publis…

    afwan numpang nyampah….gaptek pisan euy T_T

    kebenaran ditemukan lewat adanya pembuktian yah..hmmmmm

    Tapi masih ada yang tidak perlu bukti…kita tak perlu bukti untuk mempercayai akhirat itu ada dengan menunggu kiamat kan mbak yo?

    hidup mbak Yo!!!!

    ^^V

    • hihi…
      aku yo titik2 gitu tapi tak warnai putih jadi ga kliatan… *podho gaptek’e i rek*

      ah, shofiy… kalo divine things seperti itu masih terlalu berat buat otak saya yang isinya cuma tai ini… kalo akhirat mah, saya percaya aja dah… pernah iseng mikirin begituan malah meriang…😆

  11. who am i..???
    keinginan untuk mencari tau jati diri…

    terkadang memang suka terbesit,, sebenernya.. apa tujuan hidup q di dunia ini.. jika ternyata hanya terjebak pada rutinitas harian yang itu2 saja.. inginnya siy bisa explore keliling dunia…😀

    seru tuw hidup sebagai joker,, jadi jiwa yang liar.. *wah.. mulai ngaco niy.. :p

    tapi.. setelah puas membuat pikiran ini melang2buana,, tetap tempat kembali terbaik kesisi sang pencipta.. ketempat dimana semua pertanyaan itu bisa terjawab..🙂

    • ah, ria…
      tapi berbahaya kalo terlalu banyak ‘membersitkan’ pikiran ttg apa tujuan hidup etc… bisa gila kalo otak dan jiwa ternyata ga bisa nampung pikiran2 itu…
      kalo joker sih enak, ga perlu takut gila karena dia toh memang tidak waras😆
      tapi tetap penting buat saya utk tidak kehilangan rasa ingin tahu terhadap banyak hal… walaupun otak saya cuma seujung kuku, isinya cuma tai, dan kapasitasnya cuma bisa buat mikirin en nulisin hal2 gak penting…:mrgreen:

  12. Sangkaning saking pundi.. Paraning dateng pundi.. Dumadosipun kados pundi..

    Kalo yg begini aku tidak tau… Yg aku tau cuma….. Aku berasal dari tetes dasar samudera… Berjalan menuju kegelapan sempurna… Menjadi wakil dari seluruh rasa…

    *mugo2 jwbn ngawur iki gak bener*

  13. Pernah merasa seperti itu?
    >> peRnah😀
    Skeptis itu perlu, sekali-sekali.
    >> kadan9kala skePtis ju9a…

    diriku hanyaLah hamba saHaYa yan9 tiada berdaYa yo…..

    tapi tetap menikmatis etiap fase fase yan9 ada🙂

  14. waLah.. mba, kirain joker nya betmen..

    kaLu itu si karakter fave sayah.. hho.

    sayah seLama di perjaLanan ngikutin terus Loh bLog dikau, hanya saja baru komen sekarang.

    tapi btw itu postingan di fs dari jaman kapan tu ?

    • joker-nya betmen juga keren…
      karakter paporit gw jg tu si joker betmen…

      ituh… postingan fs jaman kapan yak? 2006-an gitu kali yak… dan blog fs-ku pun terlantar dgn sukses sekarang…

  15. saya suka novel ini😀

    perjalanan ayah dan anak mencari ibunya yg divisualisasikan sebagai As Hati:mrgreen:

    ya, sesekali menjadi Joker memang perlu, karena dia hanya sendiri dan berbeda dari lainnya😉

    • huaa…. iya… saya juga suka novel ini [dan novel Oom Jostein Gaarder yang lain].. toss dulu ah…:mrgreen:

      hu uh… walaupun esensi joker-nya Gaarder itu yang menurut saya paling penting: pertanyakan semuanya… cari jawabannya… dan tertawalah…😆

  16. *Mari kita berjanji untuk tidak meninggalkan planet ini sebelum kita temukan siapakah diri kita dan dari mana kita berasal…* aku belum mudeng alias lemot Mbakyu, artinya apa ya..??😀 *bingung mode on*

    makasih ya atas sarannya kemarin

    -salam- (^_0)

    • artinya saya serahkan pada dirimu sendiri untuk menginterpretasikannya semampumu, anak muda…😆

      oh ya… terima kasih kembali…

      salam juga &_& (apaan tu artinya emoticon gw…)

  17. Rutinitas->Kerja->Kapitalisme menumpulkan sisi humanis manusia & perlahan mencetak sbuah robot berdaging? Ahh..entahlah saya jg lg gak konsen baca postingan ini gara2 sibuk berpikir NANTI MALAM MAU BERBUAT DOSA DIMANA??
    JOKER Rocks!!!
    \m/

    • oh tenang saja kisanak…
      postingan ini tidak memerlukan konsentrasi tingkat tinggi kok…
      cuma ocehan orang gila biasa…

      ehm… jadi? mau berbuat dosa di mana? saya kok gak perlu mikir ya kalo mau berbuat dosa… ya go with the flow aja.. tau2 berdosa aja… gak sadar kadang2… berarti Anda hebat sekali, kisanak… perlu berpikir untuk berbuat dosa… salut!

  18. Gaarder menggambarkan Joker sebagai sosok yang menolak menjadi orang ‘kebanyakan’

    wawh, itu kan sesuai dengan gambar di kaos yang aku pakai jadi avatar ini? keren neh😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s