Posts Tagged sahabat
January 4, 2011 at 12:56 pm · Filed under Omong Kosong, Solilokui ·Tagged hidup, mati, sahabat, tuhan
Dem. Karena terlalu sibuk bernapas, saya gak sempet posting akhir tahun kemarin. Padahal, hitungan usia saya sudah bertambah lagi. Orang-orang sudah datang dan pergi lagi. Kehilangan menyerang lagi. Entah berapa liter air mata saya buang tahun ini. Entah berapa juta kali saya memalsukan ekspresi.
Mungkin, saya lah yang patut disalahkan atas segala hal yang terjadi dalam hidup saya. Mungkin, selama ini, saya lah masalah itu. Mungkin, saya lah mendung yang kehadirannya selalu mengundang hujan. Mungkin, saya punya kemampuan menyerap kebahagiaan dan meninggalkan orang mati lemas diliputi kesedihan, ketakutan, kenangan paling buruk, dan keadaan tanpa harapan.
Dan saya paham sekali kalau banyak yang tak tahan dan memilih pergi.
Ah, whatever. By the way, happy birthday, dear me. Try to stay alive, would you?
Permalink
February 4, 2010 at 2:55 pm · Filed under Omong Kosong ·Tagged hidup, mati, sahabat, tuhan
“You!” I said.
“Me?”
‘Yes, you! You! What am I going to do with you?’
‘Do nothing, Erin Law. Just stay and be my friend. And just be careful.’
‘Careful?’
‘Yes, my sister. For there is holes here. There is places to tumble out this world and not get found again.’
[Heaven Eyes dan Erin Law dalam ‘Heaven Eyes’ by David Almond]
Heaven Eyes benar. Dunia ini penuh lubang. Kau bisa terjatuh di mana saja. Lubang yang dangkal memungkinkanmu segera bangun untuk dengan mudah melompat keluar. Lubang yang dalam membuatmu berusaha lebih keras untuk akhirnya bisa merayap lagi ke atas. Dan lubang yang terlalu dalam, bisa saja membuat usahamu berakhir dengan kepasrahan mutlak karena kau tak lagi bisa memikirkan bagaimana cara keluar dari sana sedang suaramu serak karena tak henti berteriak. Ketika yang tertangkap oleh jarak pandangmu hanya pekatnya hitam, kau hanya bisa duduk diam memeluk lutut, kehabisan tenaga dan akal sehat. Satu-satunya yang bisa kau lakukan hanya berharap ada yang menemukanmu dan membantumu keluar menuju cahaya.
Tapi ceritanya bisa jadi berbeda jika kau memang senang berada dalam gelap. Kau mungkin malah ingin selamanya berada dalam lubang itu karena lama-kelamaan kau merasa nyaman di sana. Meski suatu ketika seseorang datang menjulurkan tali dan memintamu memanjat keluar, kau bergeming, tidak mengacuhkannya. Kau sendiri tak terlalu mengerti mengapa kau enggan meraih harapan itu. Tapi mungkin saja kau takut jika tiba-tiba orang itu berubah pikiran, melepaskan tali yang sudah kau genggam erat sehingga tubuhmu terhempas lepas ke tanah keras. Dan akhirnya kau mati pelan-pelan. Sendiri.
[err... dont worry -if you ever worry about me- I'm ok. I laugh a lot these past days.]
Permalink
October 8, 2009 at 12:30 pm · Filed under Omong Kosong ·Tagged hidup, neraka, sahabat, surga, teman, tuhan

Heh? Nyasar kok ngajak-ngajak?
Hehe… Spatial skill alias kemampuan spasial saya buruk. Amat sangat buruk malah. Saya bisa lupa harus melangkah ke kiri atau ke kanan di jalanan yang baru saja saya lalui. Itulah salah satu sebab (di samping mungkin ada banyak sebab lainnya
) saya gampang sekali nyasar…
Tapi, Saudara, nyasar itu nggak jelek-jelek amat kok. Kamu jadi bisa tau jalan mana yang harus kamu lalui jika suatu saat harus ke tempat itu lagi. Apalagi kalau ketika nyasar ada teman di sampingmu. Dunia ini jadi nggak gelap-gelap amat. Kalian pun bisa menertawakan kebodohan kalian keras-keras, dan kemudian kembali menyusuri jalan yang ‘benar’ bareng-bareng. Coba kalo nyasarnya sendirian… Read the rest of this entry »
Permalink
October 3, 2009 at 4:18 pm · Filed under Omong Kosong ·Tagged hidup, neraka, sahabat, surga, teman, tuhan
Engkaulah kilatan cahaya yang menyapulenyapkan segala jejak dan bayang
Engkaulah bentangan sinar yang menjembatani jurang antar duka mencinta dan bahagia terdera
Andai kau sadar arti pelitamu
Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu
Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku
Karena kita satu
Andai kau tahu…
[Supernova: Petir - Dee]
Permalink
September 10, 2009 at 10:45 am · Filed under Omong Kosong ·Tagged persahabatan, sahabat, teman

Saya tak sengaja menemukannya –seorang yang saya anggap teman dan [saya kira juga] menganggap saya temannya– sedang asyik bercanda dengan teman-temannya yang lain, setelah beberapa bulan ‘menghilang’ dari ‘pandangan’. Membicarakan entah apa yang tak terlalu saya mengerti. Ingin sekali saya menyapa. Sekedar bertanya apa kabar yang bukan basa-basi dan membiarkan ia bicara tentang apa saja. Tapi entah kenapa, saya takut ia malah menjauh, dan kemudian menghilang lagi. Maka saya putuskan untuk mengamatinya saja dari jarak yang menurut saya ‘aman’. Read the rest of this entry »
Permalink
August 11, 2009 at 9:09 am · Filed under Merenung Dikit, Omong Kosong ·Tagged berani, berubah, sahabat, takut

When you move beyond your fear, you feel free…
[Kenneth Blanchard]
Tersebutlah dua ekor tikus bernama Sniff dan Scurry dan dua orang kurcaci seukuran tikus yang bertingkah laku persis seperti manusia umumnya, bernama Haw dan Hem. Mereka berempat punya misi khusus di dunia ini yaitu menemukan keju istimewa. Setiap hari mereka berkeliling labirin untuk mencari keju yang sesuai dengan selera mereka. Suatu ketika mereka berempat sampai di ujung Stasiun Keju C dan menemukan tumpukan keju yang segera mereka klaim sebagai milik mereka.
Ceritanya selesai? Oh belum. Tak berapa lama, keju di Stasiun Keju C hilang! Para tikus yang lebih dahulu sadar. Tapi mereka tidak berhenti di situ. Tikus2 ini segera bersepakat untuk mencari keju lain di luar sana.
Haw dan Hem yang tiba kemudian sangat terkejut. “Who moved my cheese???” Read the rest of this entry »
Permalink
July 29, 2009 at 12:00 pm · Filed under Nggak Jelas Blas, Omong Kosong ·Tagged mimpi, persahabatan, sahabat

if you got dreams in your heart
why don’t you share them with me?
and if dreams don’t come true
i’ll make sure that you’re nightmares are through
if you got pain in your heart
why don’t you share it with me?
and we’ll just wait and see
if it’s happened what it used to be
and lay it down slow
lay it down free
lay it down easy
but lay it on me
if you’ve got love in your heart
why don’t you keep it with mine?
i can’t promise a miracle
but i’ll always be trying
and lay it down slow
lay it down free
lay it down easy
but lay it on me
(lay it down slow – Spiritualized)
Permalink
June 12, 2009 at 2:00 pm · Filed under Omong Kosong ·Tagged cinta, depresi, eros, kepercayaan, manusia, mengerti, penerimaan, persahabatan, rahasia, sahabat, teman
Apakah cinta itu?
Pertanyaan itu sejak bertahun bahkan berabad lalu telah mengemuka. Jawabannyapun bisa sangat subyektif. Seorang yang sedang jatuh cinta akan bilang cinta itu indah, tapi seorang yang mempunyai pengalaman tidak menyenangkan dengan cinta akan mengatakan kalau cinta itu penuh dengan penderitaan.
Secara naluriah, setiap manusia adalah makhluk yang tidak betah kesepian. Oleh karena itu, setiap individu akan berusaha membina dan menjalin hubungan dengan orang lain, baik hubungan dalam bentuk persahabatan maupun cinta. Namun terkadang dalam menjalin hubungan tidak jarang terhalang oleh berbagai permasalahan. Semakin dekat dan tahu seseorang terhadap pasangannya dimungkinkan dapat memicu pertikaian. Dan bisa jadi sebaliknya, semakin seseorang tahu sisi positif dan negatif pasangannya, maka akan semakin dewasa hubungan tersebut, tentu jika hubungan didasari dengan kepercayaan. Read the rest of this entry »
Permalink
June 10, 2009 at 3:03 pm · Filed under Omong Kosong ·Tagged bohong, kejujuran, kite runner, sahabat, the used
“When you tell a lie, you steal someone’s right to the truth…”
[Baba to Amir - Kite Runner]
Kadang saya bertanya-tanya, kenapa sih orang berbohong? Apa sangat sulit berkata (dan berlaku) jujur? Atau memang bohong sudah jadi macam bernafas sehingga serasa tercekik tenggorokan kalau lupa berbohong? Atau yang benar terlalu pahit dan ‘memalukan’ untuk diungkapkan sehingga sembunyi di balik dusta jadi satu-satunya sanktuari? Mungkin, mungkin memang terasa lebih nyaman untuk menutupi kebenaran dan memulas fakta dengan dusta-dusta yang mulanya tak terencana tapi lama-lama mewujud nyata… Read the rest of this entry »
Permalink
January 18, 2009 at 1:24 pm · Filed under Dalam Abu-Abu ·Tagged abadi, cinta, kematian, lautan, sahabat, teman
Kematian hanyalah sekadar menyeberangi dunia, seperti teman yang menyeberangi lautan; mereka masih hidup dalam diri masing-masing. Karena mereka perlu ada, cinta dan hidup dalam apa yang tidak terikat ruang dan waktu. Di dalam kaca ilahi ini mereka saling berhadapan; dan bebas berbicara, karena mereka roh murni. Inilah penghiburan para sahabat, bahwa kendatipun mereka dinyatakan mati, namun persahabatan dan pertemanan mereka, dalam arti yang paling baik, masih selalu ada, karena abadi.
[William Penn, More Fruits of Solitude -Lebih Banyak Buah Keheningan]
Is it?
Permalink