Teman-teman, sanak famili, dan sepupu-sepupu saya biasa memanggil beliau dengan julukan: BUAYA. Bukan, bukan karena Ayah saya itu playboy atau buaya darat. Tapi, karena dulu waktu mudanya, Ayah saya hobi nangkepin buaya. Nah, pada suatu ketika, Ayah saya mengintai seekor buaya mungil (disingkat bumil, ya
) yang sedang berenang-renang manis di sungai. Beliau mulai mengambil ancang-ancang untuk menangkap si bumil. Temannya sudah menunggu di pinggir sungai dengan tali buat mengikat moncong si bumil. Hap! Tertangkaplah si bumil. Ayah saya jumawa. Ia dan temannya bersiap mengikt moncong si bumil.
Lagi ngobrol penuh suka cita gitu, tiba-tiba datanglah sang Induk bumil dari sungai. Pelan…pelan…matanya penuh amarah dan dendam. Ayah saya dan temannya buru-buru naik ke darat sambil membawa si bumil. Kemudian, terjadilah pertarungan itu. Ayah saya bergulat dengan sang induk buaya! Ekor sang induk melecut punggung Ayah saya. Untunglah teman Ayah saya itu setia kawan. Dia nggak langsung kabur begitu aja waktu Ayah saya bergulat dengan sang induk buaya. Dengan (di) berani (berani kan), sang teman meraih batu dan membidik mata buaya besar itu. Syukurlah, kena! Sang induk puna meraung kesakitan, ada celah buat Ayah saya untuk kabur. Dan beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka berdua lari, lari, dan terus lari sampai di perkampungan penduduk. Ayah saya selamat dan ia tak kapok. Beliau masih berburu buaya, tapi jadi lebih hati-hati dalam perburuannya. Read the rest of this entry »